• puisi_sang_kekasih-500x500
  • puisi_sang_kekasih-500x500
1

Puisi Putih Sang Kekasih

Regular price
RM 25.00
Sale price
RM 25.00
Regular price
RM 0.00
Worldwide shipping | ILHAM Books
Worldwide shipping
Secure payments | ILHAM Books
Secure payments
Authentic products | ILHAM Books
Authentic products

Puisi Putih Sang Kekasih

Author/Editor: Siti Zainon Ismail

Publisher: UKM Press

ISBN: 9789674123468

Weight: 150g

Pages: 108

Year:

Price: RM25


Kumpulan Puisi Ptuih Sang Kekasih (Edisi Kedua) masih mengekalkan sajak terbitan 1978-1980 terbitan 1984 dengan tambahan lakaran/seni lukis. Ini adalah buku kedua setelah Nyanyian Malam (DBP 1976). Judul buku ini masih mengekalkan semangat kasih sayang yang murni sebagai “puisi putih” bercitra “embun dan kabus” sebagai pemberian-Mu. Sebagai penyair muda dan mendapat pendidikan seni lukis secara rasmi, memang pemerian karya ini banyak dipengaruhi unsur seni lukis. Melihat alam saja rasa ingin melakar dan memberi warna. Hingga tercipta metafora matahari sebagai “bola merah” hingga manusia yang mendiamkan diri sebut “kelabu”. Data penyelidikan yang dilakukan tentang kesenian rakyat memberinya idea baharu, untuk menggali nilai warisan. Lahirlah judul seperti “Kampung Kepala Bendang” pusat tukang menghasilkan labu Sayong hingga dicatat “hidup masih diwariskan/menggali tanah liat di kaki bukit/membentuk labu dan membakarnya di api sekam”. Rasa kemanusiaannya makin ketara dalam tajuk selain “Romansa di Gunung” seperti “Sri Trolak” (buat keluarga peneroka) dengan catatan sebenarnyalah/terlalu berat buat menakluk kekuasaan/kecuali harapan/berbekalkan azam/pohon pun kita suburkan lagi/lembah dan bukit seninya merimbun. Sesungguhnya kerja keras dan usaha itulah yang membenihkan kejayaan FELDA. Kekerasan hidup di beberapa tempat yang disinggahi telah memberi idea garapan sajak antaranya “Di Kota ini” yang dihasilkan ketika datang ke Filipina. Kekerasan hidup anak jalanan yang keras, ianya untuk meneruskan kehidupan keluarga, “terhidulah bau rambutmu/suara nyaring runtuhan batu/..wap air dan gunung api’/semalam/seorang semir sepatu mengetuk pintuku/anak-anak menjual kacang sempit menjelir ldah/bagai desa jeepney merah…” Tetapi kekerasan hidup tetap memberi semangat anak jalanan’ hidup harus diteruskan. Puisi dalam himpunan ini memang menjaring suara anak muda yang kerap digoda gundah, hidup belum tentu arah ke mana hujungnya, tetapi tetap percaya hati wajar disemai dengan kasih sayang menerusi ilmu. Sastera dan seni lainnya seperti melukis telah memberi kekuatan dan kerap bertanya “cahaya bintangkah itu/yang menyemarakkan malam/yang tidak melelahkan perjalanan”.